Cerpen Anak Muslim

GARA GARA KEBIASAAN

Sejuk, Tentram. Itulah suasana yang terasa di Dusun Talok. Tepatnya di Desa Pojok, Kecamatan Garum. Dusun ini dikenal sebagai dusun yang santun, agamis, dan harmonis. Hal itu dapat dilihat dari masih banyaknya TPQ (Taman Pendidikan Al Qur’an), Madin (Madrasah Diniyah), jamiyah yasinan bapak-bapak maupun ibu-ibu dan juga dari ramainya kegiatan-kegiatan keagamaan lain seperti istighosah, pengajian dan lain-lain. Di luar lingkup keagamaan pun, suasana dusun ini juga tentram dan rukun.

TPQ Al Fattah merupakan salah satu TPQ di dusun tersebut. Terletak di pinggir jalan tepat, sebelah utaranya ada 1 kolam ikan, dan disebelah belakangnya terdapat kebun yang sangat luas, sehingga kebun tersebut seringkali menjadi lahan bermain bagi santri-santri TPQ.

Seperti anak-anak desa pada umumnya, mereka tak mengenal permainan modern seperti anak-anak di perkotaan. Bermain kejar-kejaran, lompat tali, mancing-mancingan dan nruthus (berkeliaran) di kebun tetangga TPQ adalah kegiatan yang sangat mengasyikkan bagi mereka. Sehingga tak jarang tanaman milik rumah pak kyai dan tanaman milik beberapa tetanggapun jadi sasaran mainan santri-santri TPQ.

Nduk (sapaan bagi anak perempuan di daerah jawa timur), tadi kamu lihat ndak anak-anak yang bermain di halaman depan rumah Abah?” tanya Gus Ilham pada beberapa santri putri yang sedang bermain lompat tali di halaman depan rumah Abah Yasin, pemilik & pengasuh TPQ Al Fattah.

Enggeh Pak, tadi Falah, Subhan dan teman-temannya  kejar-kejaran sambil saling melempar tomat.“ jawab mereka.

“Masya Allah, mereka lagi!“ jawab Gus Ilham.

Kali ini putra pertama Kyai Yasin tersebut sedikit kehilangan kesabaran. Bagaimana tidak? Sudah berulangkali anak-anak dikasih tahu, jangan merusak tanaman, tapi masih saja tetap begitu. Dulu pernah, Gus Ilham menanam terong di polybag sepanjang selokan depan rumah, terong-terong tersebut tumbuh dengan subur, Gus ilham sangat senang sekali.

“Alhamdulillah Mi, terong-terongnya sudah mulai berbuah, masih sebesar jari kelingking sih, tapi Insya Allah cepat besar kok Mi, nanti kalau sudah panen, lumayan Mi, dapat Umi masak.“ celoteh Gus Ilham dengan antusias

“Iya anakku sayang, diam-diam kamu pinter juga berkebun nak!“ jawab Umi Aisyah, Istri Abah Yasin.

Mendengarnya, Senyum Gus ilham merekah.

Sekitar seminggu setelah obrolan tersebut, Gus Ilham di buat emosi dengan apa yang dilihatnya, buah terong yang sudah mulai membesar sekitar ukuran 2 jari tangan, jatuh berceceran di sebelah polybag. Ada yang diselokan dan ada juga yang di jalan raya. Dan itu tidak sedikit, tapi hampir semuanya ikut dipretheli. Gus Ilham geram bukan main.

Hari itu juga, selepas jama’ah Sholat ‘Ashar, Gus Ilham memanggil Falah dan Subhan. Beliau mengintrogasi mereka yang notabene sering jadi biang keladi dalam berbagai kasus keusilan.

“Falah, Subhan! Kalian yang ngacak-ngacak tanaman terong di halaman depan rumah Abah Yasin?” gertak Gus Ilham.

“I…i…iya Pak, maafkan kami.” Jawab Falah dengan gemetaran, sementara Subhan hanya menunduk ketakutan.

“Astaghfirullah…, kalian ini kok gak ada kapok-kapoknya to? Sudah seringkali kalian dihukum gara-gara keusilan kalian. Kali ini masih juga buat ulah lagi. Ya Allah, harus gimana lagi caranya nasehatin kalian Nak?”

Dua santri istimewa tersebut tak berani berkata apa apa, tadi sebelum Sholat ‘Ashar, mereka sudah dimarahi karena ramai dan usil menjahili teman-temannya. Mereka memang luar biasa, hampir setiap hari ada saja ulah yang dilakukan, dan hal ini berhasil membuat kesabaran para pendidik di TPQ tersebut terkuras.

“Ininya dipakai to Le (sapaan anak laki laki)! Jangan terus-terusan begini, belajarlah jadi anak yang baik, jadi anak yang sholih!” gertak Gus Ilham sambil menjewer telinga mereka.

“Sudah, pulang sana!” lanjut Gus Ilham

Gus Ilham diam, menarik nafas panjang. Astaghfirullahal’adziim….

Beliau beristighfar karena lagi-lagi termakan emosi menghadapi tingkah laku santri-santrinya.

TPQ Al Fattah memang berbeda dari TPQ lainnya. Jika beberapa TPQ lain sistemnya hanya pembelajaran Iqra’ atau Al Qur’an saja, sehingga anak-anak berangkat sekitar jam 3 sore dan sudah pulang sekitar jam 4 sore. Kalau di TPQ Al Fattah, anak-anak berangkat sekitar pukul setengah 2. Anak-anak Sholat Dhuhur berjama’ah dan wiridan bersama. Setelah itu praktek Sholat Shubuh dengan disuarakan bersama-sama. Setelah itu istirahat sekitar 15 menit, lalu pembelajaran Iqra’ dan Al Qur’an sampai jam 4 dan diakhiri dengan Sholat ‘Ashar berjama’ah.

Gus Ilham memang ustadz muda yang sama dengan manusia lainnya, yakni punya kelebihan dan kekurangan. Salah satu kekurangannya adalah kadang masih labil menghadapi anak-anak yang melanggar aturan/norma. Tak jarang seusai Sholat ‘Ashar beliau menyuruh berdiri anak-anak yang nakal, disuruh membaca sholawat dan istighfar 100 kali. Kalau ada yang nakalnya parah, terkadang ada sabetan sorban mengenai pundak atau kaki mereka. Kadang juga ada jeweran mendarat di telinga mereka. Pernah juga, tasbih beliau melayang menghampiri anak-anak yang ramai dan sulit dikondisikan saat wiridan.

Anak-anak memang istimewa. Masing-masing mempunyai karakter yang berbeda-beda. Mereka unik dengan segala tingkah lakunya. Ada yang anteng dan memperhatikan dengan seksama, ada yang anteng namun tidak fokus, ada yang tidak bisa diam, ada yang usil pada temannya, bahkan ada yang kadang melawan gurunya. Ya, itulah ujian kesabaran bagi para pendidik.

 Di TPQ ini ada beberapa anak yang sampai mempunyai gelar gara-gara kebiasaan yang sering atau bahkan istiqamah pelaksaannya. Misalnya Sintia, anak sholihah dan tawadhu’ pada gurunya. Fika, anak yang mudah mengantuk. Dika, anak yang tak bisa diam saat di kelas. Rani, anak yang cengeng. Egli, anak yang selalu usil saat pelaksanaan sholat berjama’ah. Dan yang paling terkenal jahil, usil dan suka bikin ulah adalah Falah dan Subhan.

¤ ¤ ¤ ¤ ¤

“Pak, saya berangkat dulu ya, Assalamu’alaikum….” terdengar suara lembut Bu Fatimah berpamitan sambil mencium tangan suaminya.

Wa’alaikumsalamwarahmatullah Istriku sayang.” Sebuah kecupan mesra melayang pada kening bening Bu Fatimah. Senyumpun merekah di bibir indah Bu Fatimah.

Bu Fatimah segera berjalan dengan cepat menuju TPQ Al Fattah. Sudah sekitar 2 tahun ini Bu Fatimah ikut berjuang bersama 5 pendidik lainnya di TPQ tersebut. TPQ tersebut tidak jauh dari rumahnya, hanya dengan melewati 2 rumah saja sudah sampai lokasi. Tak jarang, Bu Fatimah mengajak serta putri shalihahnya, Zahra untuk bersama-sama belajar mengaji bersama santri-santri TPQ lainnya.

Ibrahim, suami Bu Fatimah adalah peternak ikan yang juga rajin dan sukses bertani di kebun belakang rumahnya. Sayur mayur dan buah-buahan yang ditanamnya berbuah lebat dan banyak. Namun, tak jarang buah-buahan di kebun pak Ibrahim menjadi sasaran keusilan beberapa santri TPQ Al Fattah. Pak Ibrahim dengan kesabarannya hanya diam saja mengetahui hal ini. Ah, namanya juga anak-anak, begitulah yang ada di fikirannya.

Suatu hari, pak Ibrahim di kasih labu oleh kerabatnya. Buah labu tersebut sangat istimewa, buahnya sangat besar dan rasanya sangat lezat, sehingga bijinya beliau tanam di kebun belakang rumahnya.

Beberapa bulan kemudian, biji buah labu tersebut telah tumbuh menjadi pohon labu yang sangat subur dan telah berbuah. ada 1 buah yang terlihat besar. Pak Ibrahim sangat senang sekali. Beliau sudah membayangkan betapa nikmatnya labu rebus tersebut. Labu tersebut sudah mulai membesar, kalau ditimbang mungkin sekitar 3 kg, namun Pak Ibrahim masih membiarkannya nangkring di pohonnya karena sepertinya masih bisa tumbuh lebih besar lagi. Mungkin seminggu lagi labu ini siap dipetik.

Sore itu, Bu Fatimah pulang dari TPQ lewat jalan belakang rumah. Sesampainya di belakang rumahnya, perhatian Bu Fatimah tertuju pada buah labu yang sudah membesar. Bu Fatimah sangat senang sekali melihatnya. Beliau mendekati dan memegangi buah labu tersebut dengan seksama.

Beliau terkejut karena ada satu titik hitam di bagian bawah buah labu itu. Ah, mungkin ini karena terkena batang pohon labu yang berada tepat di bawah buah labu. Dengan hati-hati Bu Fatimah memindahkan posisi buah labu tersebut ke posisi yang lebih baik dan berharap bintik hitam tersebut tidak merembet ke bagian buah lainnya. Setelah itu beliau pulang dan lupa tidak bercerita pada suaminya tentang penemuannya barusan.

Tiga hari kemudian, Bu Fatimah kembali pulang lewat jalan belakang dengan tujuan mengecek buah labu di belakang rumahnya. Alangkah kecewanya beliau karena mengetahui ternyata buah labu itu telah berubah warna, yang tadinya berwarna hijau segar, kini telah berubah menjadi kuning dan daging buahnya telah hampir semuanya membusuk. Ternyata buah tersebut telah terkena hama lalat buah.

“Ya Allah…kok gini ya? Gak papa, semoga buah lainya segera membesar dan tumbuh sehat tanpa diganggu oleh hama lalat buah.” Kata Bu Fatimah dengan pasrah.

Setelah itu, beliau langsung memetik buah tersebut dan membuangnya ke sungai kecil di kebun belakang rumahnya. Dan kali ini pun beliau lupa menceritakannya pada suaminya.

Keesokan harinya, pagi hari saat Pak Ibrahim menyapu halaman belakang rumahnya, beliau sangat terkejut dan kecewa melihat buah labunya tergeletak di sungai belakang rumahnya. Labu itu telah hancur. Sepertinya memang sengaja dibuang ke sungai. Kali ini Pak Ibrahim tidak dapat mengontrol emosinya.

Ibundanya yang sedang olahraga pagi menghampiri Pak Ibrahim di belakang rumah.

“Ada apa Le?” tanyanya dengan lembut.

“Ini lho buk, labu sudah siap panen kok ya dibuang ke sungai. Keterlaluan!” jawab Pak Ibrahim dengan emosi.

“Loh kok bisa to Le?”

“Entahlah buk….”

“Jangan-jangan ini ulah anak TPQ, sering itu tanaman Gus ilham dibuat mainan sama anak-anak. Dulu juga pernah kan jambu milik kita ludes oleh mereka?”

“Kurang ajar anak-anak itu buk, ini sudah hampir masak lho buk labunya.” Rupanya emosi Pak Ibrahim meletup-letup kali ini.

Bu Fatimah tidak mengetahui kejadian ini karena masih repot memasak di dapur dan hari itu mau posyandu bersama Zahra. Dan kebetulan pula Pak Ibrahim dan Ibundanya lupa untuk menceritakan kejadian tersebut kepada Bu Fatimah.

Keesokan harinya, Pak Ibrahim bertemu dengan Gus Ilham di acara yasinan RT mereka. Pada saat itu, Pak Ibrahim menceritakan tentang penemuan labu yang sudah membusuk di sungai kecil belakang rumahnya. Sontak Gus Ilham teringat dengan Falah dan Subhan.

“Yaa Allah… Mohon maaf pak, jangan-jangan itu perbuatan Falah sama Subhan? Mereka itu kok ya masih saja usil to. Ya udah pak, besok kalau ketemu biar mereka tak hukum. Ini sudah keterlaluan. Sekali lagi mohon maaf ya Pak? Nanti kalau Pak Ibrahim lihat mereka lewat depan rumah bapak, bapak marahin gak papa pak.”

“Iya Gus, gak tau kenapa, saya kok geram sekali pada mereka.”

¤ ¤ ¤ ¤ ¤

Anehnya, selama dua hari ini Gus Ilham lupa bahwa beliau berencana memarahi Falah dan Subhan. Pak Ibrahim pun belum ketemu dengan kedua santri tersebut.

“Dek, tadi pas ngajar TPQ lihat Falah sama Subhan gak?”

“Lihat Mas, kenapa lho?” jawab Bu Fatimah penasaran.

“Mereka keterlaluan Dek, masak buah labu yang sudah siap petik mereka petik dan mereka buang ke sungai.”

Mendengar hal tersebut, Bu Fatimah tak kuasa menahan tertawa.

“Ya Allah Pak……., jangan su’udzon sama mereka. Mereka gak tau apa-apa tentang labu itu.” Jawab Bu Fatimah sambil masih tertawa.

“Gak boleh su’udzon gimana to Dek?”

“Yang buang labu itu ke sungai itu saya Pak, karena beberapa hari lalu buah itu memang sudah membusuk di pohonnya karena hama lalat buah, akhirnya aku petik dan aku buang di sungai biar gak mengganggu pertumbuhan buah labu lainnya.”

“Beneran Dek????”

“Beneran sayangku.”

“Ya Allah, untung saja mereka belum sempat aku marahi. Aku ke rumah Gus Ilham bentar ya Dek, mau klarifikasi biar gak sampai memarahi atau menghukum Falah dan Subhan.”

Mengetahui hal itu, Gus Ilham dan Pak Ibrahim pun tertawa terbahak-bahak. Untung saja Allah masih menakdirkan mereka untuk tidak memarahi dan menghukum Falah dan Subhan.

Oleh karena itu, berhati hatilah dengan kebiasaan.

Tinggalkan komentar